Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2015

Kewirausahaan Berbasis Teknologi

Kewirausahaan dalam bidang teknologi adalah semacam menciptakan sebuah usaha namun berlandaskan pada perkembangan teknologi yang ada maupun dengan inovasi teknologi dari pencetus usahanya tersebut.
Namun, sebelum membahas lebih jauh tentang kewirausahaan berbasis teknologi, ada baiknya jika kita mengulas terlebih dahulu tentang apa itu kewirausahaan.

Kewirausahaan
Menurut kutipan yang terdapat di situs Wikipedia, kewirausahaan atau wirausaha adalah proses untuk mengidentifikasi, mengembangkan, serta membawa sebuah tujuan ke dalam kehidupan. Tujuan yang dimaksud disini dapat berupa sebuah ide yang inovatif dan adanya keinginan untuk mengambil ataupun menciptakan sebuah peluang. Hasil dari tujuan tersebut adalah dengan terciptanya sebuah usaha baru yang dibentuk dengan penuh resiko dan ketidakpastian. Namun, sebagai seseorang yang ingin menciptakan wirausaha, resiko dan ketidakpastian tersebut tidaklah akan menjadi halangan untuk menyerah.
Kewirausahaan sebenarnya memiliki arti yang berbeda-beda menurut pandangan para ahli, tergantung dari sudut pandang mana para ahli tersebut menilai arti sebuah kewirausahaan. Disini terdapat beberapa kutipan dari beberapa situs mengenai defiini kewirausahaan menurut beberapa ahli.
·   Menurut Richard Cantillon (1775), mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri – tanpa terikat oleh orang lain ataupun perusahaan lain. Seorang wirausahawan akan membeli barang yang ada pada saat ini dengan harga yang pasti lalu ia akan menjualnya kembali pada masa yang akan datang dengan harga yang tidak pasti – kalau pada saat seperti sekarang ini (abad 21) mungkin mirip seperti agen atau reseller. Jadi defini Richard Cntillon ini lebih ke bagaimana seseorang menghadapi resiko beserta ketidakpastian.
·        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III (2000), kewirausahaan adalah hal - hal yang bersangkutan dengan wirausaha. Sementara pengertian wirausaha itu sendiri adalah orang yang pandai dalam mengenali sebuah produk baru, bisa menentukan cara produksi baru, menyusun strategi untuk menciptakan produk baru, mampu memasarkan produk barunya tersebut, serta mengatur permodalan operasinya.
·        Menurut Kasmir, S.E., M.M. (2006), kewirausahaan adalah suatu kemampuan individu atau kelompok dalam hal menciptakan kegiatan usaha. Kemampuan menciptakan usaha pun diperlukan sebuah kreativitas dan inovasi yang terus menerus agar dapat selalu menemukan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya.
·    Menurut Habib Amin (2012), secara harfiah kewirausahaan terdiri dari kata dasar wirausaha yang mendapat awalan ke- dan akhiran -an, sehingga dapat diartikan bahwa kewirausahaan adalah hal - hal yang terkait dengan wirausaha. Sedangkan wira yang memilik arti keberanian dan usaha yang berarti sebuah kegiatan bisnis komersial ataupun non-komersial, sehingga kewirausahaan dapat diartikan sebagai keberanian seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan suatu kegiatan bisnis.
·   Menurut Penrose (1963), kegiatan kewirausahaan mencakup identfikasi peluang-peluang yang ada di dalam sistem ekonomi.
·      Menurut Hervey Leibenstein (1968, 1979), kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya – jadi seperti benar - benar menciptakan sebuah hal yang baru melalui usahanya akan dibuatnya ini.
·       Menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Kewirausahaan dalam Bidang Teknologi
Berdasarkan pengertian kewirausahaan di atas, sekarang kita dapat mengartikan kewirausahaan dalam bidang teknologi.
Kewirausahaan dalam bidang teknologi, atau yang biasa disebut sebagai technopreneurship adalah sebuah usaha yang dibuat atau diciptakan oleh individu maupun sebuah kelompok yang dasar usahanya tersbut adalah menggunakan teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi yang pada abad ini semakin berkembang pesat, maka cara ini merupakan sebuah strategi terobosan baru untuk mengatasi masalah pengangguran intelektual yang semakin meningkat.
Dan technopreneurship ini pun mempunyai banyak sekali manfaatnya, yang berhasil dikutip oleh penulis adalah sebagai berikut :

Manfaat technopreneurship dari segi ekonomi :
1.       Meningkatkan efisiensi dan produktivitas, dengan menggunakan teknologi maka para wirausahawan dapat bekerja secara efisien dengan waktu maupun tempat untuk bekerjanya dan bisa memproduksi sesuai dengan kebutuhan dari konsumen sehingga tidak terjadi adanya waktu tunggu yang sia – sia.
2. Meningkatkan pendapatan, dengan melakukan sebuah usaha menggunakan perkembangan teknologi ini maka para wirausawan dapat meningkatkan pendapatnya melebihi orang – orang yang sekedar bekerja di kantoran.
3.  Menciptakan lapangan kerja baru, dengan semakin berkembangnya usaha yang dijalani, tidak mungkin seorang wirausahawan dapat bekerja sendirian, pasti membutuhkan bantuan orang lain, dengan membutuhkan bantuan ornag lain itu maka seorang yang mempunyai bisnis sendiri ini akan membuka lowongan pekerjaan agar bisnisnya tetap dapat berjalan.
4.     Menggerakan sektor – sektor ekonomi yang lain, seperti sebuah wirausahawan yang telah memiliki bisnis besar, maka ia akan membutuhkan orang lain, sehingga tingkat pengangguran pun bisa terbantu, dengan adanya sejumlah pengangguran yang terbantu itu maka sektor ekonomi lain pun secara tidak langsung ikut terbantu juga.

Manfaat technopreneurship dari segi sosial :
1.    Mampu membentuk budaya baru yang lebih produktif, jika ada sebuah usaha yang  sudah lumayan terkenal serta terpercaya – ambil contohnya produk perawatan alami, maka akan semakin banyak orang yang ingin belajar untuk memproduksi produk perawatan alami dan mereka pun ingin menjualnya juga dengan alasan lain ingin membantu memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat.
2.   Berkontribusi dalam memberikan solusi pada penyelesaian masalah sosial, seperti contohnya pengurangan jumlah pengangguran, banyaknya orang yang terinspirasi untuk membuka usaha juga.

Contoh Kewirausahaan dalam Bidang Teknologi
Penulis akan mengambil contoh dalam keseharian penulis, yaitu dengan berjualan di rumah sebagai reseller dari sebuah produk perawatan alami yang masih di produksi secara manual – home production.
Penulis mempunyai seorang kawan yang memiliki bisnis untuk perawatan seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki yang bernama Java Remedies, lalu untuk memasarkan produk – produknya tersebut, maka owner dari JR membutuhkan yang namanya promosi, dan promosi yang paling mudah dijangkau adalah dengan menggunakan sosial media sehingga banyak orang yang dapat melihat hasil produksi kawan penulis tersebut.
Sosial media disini adalah sebuah teknologi yang perkembang pesat, dimana sudah tidak asing lagi jika hampir setiap orang menggunakan sosial media yang tadinya untuk sekedar berkomunikasi menjadi ajang untuk berbisnis juga.
Dengan adanya kekuatan sosial media di sini, maka banyak orang yang ingin mencoba produk JR ini, dan tidak sedikit orang yang menawarkan diri untuk menjadi agen di daerah lain yang belum terdapat JR, dan dengan adanya agen ini maka para reseller pun berdatangan untuk menjual kembali produk JR ini.
Jadi kekuatan teknologi ini memang sangat mempengaruhi segi ekonomi dan sosial dari banyak pihak. Banyak ibu rumah tangga yang berjualan produk JR dan jadi memiliki penghasilan tambahan untuk menyongsong kehidupan rumah tangganya. Dan untuk orang – orang yang ingin memliki pekerjaan sampingan pun dapat melakoni bisnis ini sebagai reseller, misalnya mahasiswi yang ingin memiliki penghasilan tambahan untuk kebutuhan kuliahnya.


Sumber : 

Jumat, 05 Juni 2015

Pengembangan Paragraf

Encyclopedia of Computer Science sendiri mendefinisikan "Sistem Informasi" sebagai : "A system in which computing technology is applied to the information needs of the organization".Sistem Informasi yang ada dalam Dunia Akademik Konsep merupakam sistem mengenai ilmu itu sendiri diperkenalkan pada dunia akademik melalui dua artikel utama dari Ashenhurst (1972) dan Couger (1973). Dengan kata lain, bahwa keberadaan ilmu itu telah diperkenalkan dan dipelajari pada awal tahun 70-an di beberapa perguruan tinggi di Amerika. Pada kedua artikel tersebut disebutkan bahwa tujuan diajarkannya ilmu Sistem Informasi pada perguruan tinggi adalah : "To give students knowledge of the organization, its information needs, and its behavior, as well as of computing technology."

Sistem informasi adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen. Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi yang sering digunakan ini merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi. Dalam pengertian ini, istilah sistem informasi digunakan untuk merujuk tidak hanya pada penggunaan organisasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tetapi juga untuk cara di mana orang berinteraksi dengan teknologi ini dalam mendukung proses bisnis.

Sistem informasi yang berbeda dari teknologi informasi dalam sistem informasi biasanya terlihat seperti memiliki komponen TIK. Hal ini terutama berkaitan dengan tujuan pemanfaatan teknologi informasi. Sistem informasi juga berbeda dari proses bisnis pada umumnya, melainkn sistem informasi membantu untuk mengontrol kinerja proses bisnis.

Yang dimaksud dengan Sistem Komputer Program studi Sistem Komputer adalah studi yang berkenaan dengan rancangan dan pengembangan komponen perangkat keras maupun perangkat lunak dari komputer sebagai suatu sistem. Studi ini mencakup pengkajian mulai dari aspek rancangan dan implementasi arsitektur perangkat keras maupun perangkat lunak dengan penekanan pada arsitektur fungsional dan kinerja sistem komputer. Studi yang dipandang penting dan sedang menjadi penekanan di bidang ini antara lain berkenaan dengan perbandingan teknologi perangkat keras, pertukaran dalam rancangan perangkat keras dan perangkat lunak, dampak perubahan teknologi terhadap feasibilitas, interaksi antar sistem arsitektur, rancangan sistem perangkat keras maupun lunak, hingga simulasi sistem komputer berskala besar. Dalam studi ini sistem komputer dipandang sebagai bagian dari infrastruktur suatu organisasi.



Sumber :
http://novitaristyana.blogspot.com/2015/06/sistem-informasi-tugas-softskill.html?m=1

Rabu, 22 April 2015

Cara Melihat dan Mengtahui IP Address Pada Komputer

Cara Melihat dan Mengtahui IP Address Pada Komputer - IP address adalah singkatan dari Internet Protokol, yang biasanya digunakan untuk mengindentifikasi suatu komputer yang terhubung dalam sebuah jaringan.

Terkadang untuk keperluan tertentu, terlebih jika komputer kita terhubung dalam jaringan, kita  informasi terkait ip address yang digunakan oleh komputer sangatlah penting. Misal, jika pada suatu jaringan, kita akan melakukan sharing file ataupun sharing printer, maka informasi yang dibuthkan adalah IP address yang digunakan pada komputer yang bersangkutan.

Dibawah ini adalah cara yang bisa dilakukan untuk melihat IP address pada komputer Anda.

Cara melihat IP address pada Windows


1. Melalui Command prompt

Untuk menjalankan command prompt bisa melalui run, caranya tekan tombol WinKey + R kemudian ketik cmd, lalu tekan enter. Setelah itu akan muncul commad prompt.

Untuk melihat atau mengecek ip address yang digunakan, ketik perintah "ipconfig" pada cmd.

Cara Melihat dan Mengtahui IP Address Pada Komputer - melalui cmd
Gambar 1

Pada gambar diatas dapat kita lihat bersama informasi yang diberikan terkait IP address yang digunakan. Pada gambar diatas, IP address yang diguakan untuk koneksi internet adalah pada interface Local Area Connection.

2. Melalui Network and Sharing Center

- Buka terlebih dahulu control panel pada start menu. Setelah terbuka jendela control panel, lihat pada bagian network and internet, lalu klik View network status and tasks.

Cara Melihat dan Mengtahui IP Address Pada Komputer - Melalui Network and Sharing Center (1)
Gambar 2.1

Selanjutnya Anda akan dibawa ke halaman berikutnya. Disini Anda bisa melihat interface yang digunakan digunakan. Pada gambar terlihat ada dua interface, yaituLocal Area Connection dan VirtualBox Host-only Network. Biasanya interface yang digunakan untuk koneksi jaringan local dan koneksi internet. Setiap interface memiliki IP Address yang berbeda.

- Klik interface yang ingin Anda lihat IP addressnya, kemudian klik Details.

Cara Melihat dan Mengtahui IP Address Pada Komputer - Melalui Network and Sharing Center (1)
Gambar 2.2

Setelah itu, akan terlihat informasi tekait IP address yang digunakan pada interface yang bersangkutan.

Cara Melihat dan Mengtahui IP Address Pada Komputer - Melalui Network and Sharing Center (1)
Gambar 2.3



sumber : http://www.pintarkomputer.com/2014/06/cara-melihat-dan-mengtahui-ip-address-komputer.html

Selasa, 03 Maret 2015

Tugas Bahasa Indonesia 2 - Proposisi dan Penalaran


Proposisi

Proposisi adalah istilah yang digunakan untuk kalimat pernyataan yang memiliki arti penuh dan utuh. Hal ini berarti suatu kalimat harus dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya. Singkatnya, proposisi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang dapat dinilai benar atau salah.

Dalam ilmu logika, proposisi mempunyai tiga unsur yakni:

1. Subyek, perkara yang disebutkan adalah terdiri dari orang, benda, tempat, atau perkara.

2. Predikat adalah perkara yang dinyatakan dalam subjek.

3. Kopula adalah kata yang menghubungkan subjek dan predikat.

Contohnya kalimat Semua manusia adalah fana. Kata semua dalam kalimat tersebut dinamakan dengan pembilang. Kemudian kata manusia berkedudukan sebagai subyek, sedang adalah merupakan kopula. Adapun predikat di sini diwakili oleh kata fana.



Jenis-jenis proposisi :

1. Bentuk
2. Sifat
3. Kualitas
4. Kuantitas


1. Bentuk
Dibagi menjadi 2, yaitu :
– Tunggal : kalimat yang terdiri dari 1 subjek dan 1 predikat
contoh :

Habibie terjatuh

Richard pergi

– Majemuk : Kalimat Proporsisi yang terdiri dari 1 subjek dan lebih dari 1 predikat
contoh :

Doni menaiki tangga dan membaca Koran

Rian memasak di dapur dan menyuapi anaknya


2. Sifat
Dibagi menjadi 3, yaitu :
– Kategorial : proporsisi hubungan antara subjek dan predikatnya tidak ada syarat apapun
contoh : semua bangku di kelas 3KB05 berwarna coklat.

– Kondisional : proporsisi yang hubungannya subjek dan predikat membutuhkan persyaratan tertentu. Biasanya diawali :jika, apabila, walaupun, seandainya
contoh : jika susi wanita maka akan menikah dengan rudi

~kondisional dibagi menjadi 2, yaitu :– Hipotesis yaitu dugaan yang bersifat sementara.

Contoh : Jika susi rajin belajar maka dia akan pintar.

– Disjungtif yaitu memiliki 2 predikat dan predikatnya alternatif.

contoh : Wanita itu sudah menikah apa belum.



3. Kualitas

Yang terdiri dari :
– Afirmatif (+) : proporsisi dimana predikatnya membenarkan subjek
contoh : Semua kucing pasti mempunyai ekor

– Negatif (-) : proporsisi dimana predikatnya menolak subjek
contoh : Tidak ada kucing yang tidak memiliki ekor


4. Kuantitas / Proporsisi Universal : proposisi yang predikatnya mendukung atau mengingkari subjeknya
contoh : Tidak ada satupun mahasiswa yang tidak memiliki NPM





Bentuk proposisi :

Berdasarkan dua jenis proposisi, yaitu berdasarkan kualitas (positif dan negatif) dan berdasarkan kuantitas (umum dan khusus) ditemukan empat macam proposisi, yaitu
1) Proposisi umum-positif; -- disebut proposisi A
2) Proposisi umum-negatif; -- disebut proposisi E
3) Proposisi khusus-positif; -- disebut proposisi I
4) Proposisi umum-negatif; -- disebut proposisi O

Proposisi umum-positif adalah proposisi yang predikatnya membenarkan keseluruhan subjek. (A)
Contoh:
a) Semua mahasiswa adalah lulusan SMTA.
b) Semua karya ilmiah mempunyai daftar pustaka.

Proposisi umum-negatif adalah proposisi yang predikatnya mengingkari keseluruhan subjek. (E)
Contoh:
a) Tidak seorang mahasiswa pun lulusan SMTP.
b) Tidak seekor gajah pun berekor enam.

Proposisi khusus-positif adalah proposisi yang predikatnya memcobenarkan sebagian subjek. (I)
Contoh:
a) Sebagian mahasiswa adalah anak pejabat.
b) Sebagian perguruan tinggi dikelola oleh yayasan.

Proposisi khusus-negatif adalah proposisi yang predikatnya mengingkari sebagian subjek. (O)
Contoh:
a) Sebagian mahasiswa tidak mempunyai mobil.
b) Sebagian perguruan tinggi tidak dikelola oleh yayasan.






Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.




Penalaran Induktif

Penalaran Induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.



Ciri Penalaran Induktif

1. Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus

2. Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus

3. Kesimpulan terdapat di akhir paragraph

4. Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraph

5. Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama



Contoh Kalimat Penalaran Induktif

a. Kucing mempunyai kelanjar susu untuk menyusui anaknya.

b. Sapi mempunyai kelenjar susu untuk menyusui anaknya.

c. Anjing mempunyai kelenjar susu untuk menyusui anaknya.

Kesimpulan : Semua hewan yang mempunyai kelenjar susu dapat menyusui anaknya.





Penalaran Deduktif

Penalaran Deduktif merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Penalaran deduktif juga merupakan proses penalaran untuk menarik kesimpulan dari hal-hal atau fakta-fakta yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.



Ciri Penalaran Deduktif

1. Letak kalimat utama di awal paragraf.

2. Diakhiri dengan penjelasan

3. Diawali dengan pernyataan umum disusul dengan uraian atau penjelasan khusus.



Contoh Kalimat Penalaran Deduktif

a. Semua manusia akan wafat (premis mayor)

b. Rio adalah seorang manusia yang memiliki jiwa baik (premis minor)

c. Jadi, Rio akan wafat (konklusi), (*konklusi lebih sempit dari premis)






Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Proposisi

https://anggidigo.wordpress.com/2010/05/07/kalimat-proposisi/

http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

http://aktivasikreativitaswulung.blogspot.com/2012/12/bentuk-bentuk-preposisi.html

http://inggitsoekarno.blogspot.com/2013/03/penalaran-deduktif-dan-penalaran.html



Minggu, 28 Desember 2014

Sepenggal Kalimatku Untukmu

Orang tua
Mereka adalah saranaku
Mereka adalah pelindungku

Orang tua
Sosok yang selalu melindungiku
Sosok yang selalu mengarahkanku

Orang tua
Tanpa mereka
Apa dayaku hidup sampai detik ini?

Ibuku
Wanita yang mulia
Wanita yang selalu memberiku banyak kasih sayang

Ibuku
Selalu memperhatikan tumbuh kembangku
Selalu menjagaku

Ibuku
Memberikan yang terbaik untukku
Memberikan seluruh hidupnya untukku

Ayahku
Lelaki yang tangguh
Lelaki yang menjadi tamengku

Ayahku
Selalu memperjuangkan segala daya dan upayanya demi anak-anaknya
Selalu mementingkan anak-anaknya daripada kepentingannya

Ayahku
Memberikanku dorongan yang membangun
Memberikan selalu yang terbaik bagi anak-anaknya

Betapa aku tidak bisa tidak mensyukuri
Kehadiran mereka di dalam kehidupanku

Semoga Allah terus selalu menjaga mereka
Di jalan yang lurus
Dan kekal dalam jannah-Nya
Aamiin


- AMNS -

Sepenggal Kisah

Ketika Aku ditanyakan tentang, "apa yang mengispirasimu?", mungkin aku hanya terdiam. Karena sebenarnya, banyak sekali hal di dunia ini yang sangat inspiratif.
Tapi Aku tidak akan mengambil contoh yang jauh, Aku hanya akan membahas tentang orang tuaku saja. Yang selalu berhasil membuatku menitikkan air mata. Yang selalu mendukung semua hal yang terbaik untukku.

Ibuku, adalah wanita yang sangat tangguh. Berbagai macam liku kehidupan pernah dicicipinya. Dari mengandungku, menghadirkanku ke dunia yang fana ini, menjagaku dari serangan yang tak diinginkan, mengayomiku tentang banyak hal yang berbau dengan kehidupan, mengajari banyak hal sehingga tidak sedikit hal yang bisa aku lakukan sampai saat ini.

Ibuku selalu memperjuangkan segalanya untuk kebaikan hidupku. Ia rela mengesampingkan semua keinginannya demi memenuhi kebutuhanku. Ia rela melakukan apapun demi yang terbaik untukku.

Ibu selalu memberikanku dorongan yang membuatku semangat. Ibu selalu menggantungkan harapan yang tinggi kepadaku, agar aku menjadi orang yang lebih baik lagi kelak aku semakin dewasa nanti.

Ayahku, adalah seorang pejuang keras yang selalu mengais rejeki demi keluarga kecilnya. Pemopong tulang punggu keluarga, pendukung semua demi kebaikan, terkadang sosok ayah adalah sebagai penengah diantara gemuruh.

Tak banyak yang dapat ku sampaikan tentang mereka.
Karena kasih sayang mereka tak mampu ku ucapkan dengan kata-kata yang berarti.
Mereka adalah kedua sayap kecilku yang selalu bersamaku.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Ragam Bahasa dalam Dunia Kesehatan

Bagan tentang Kesehatan


Ya, pada kesempatan kali ini Saya akan berusaha membuat sebuah artikel yang bertemakan tentang kesehatan. Dimana perkara kesehatan ini masih sangatlah kurang diperhatikan oleh masyarakat secara detil.



Mari kita mulai dengan membahas dari segi makanan terlebih dahulu. Makanan adalah hal yang tidak mungkin bisa lepas dari kita sebagai manusia.
Namun, ada hal yang sangat disayangkan dari makanan ini, sebenarnya bukan tentang makanannya, tetapi tentang kebiasaan masyarakat mengkonsumsi makanan. Kebanyakan, masyarakat itu makan yang penting mengenyangkan dan enak.
Padahal, kualitas hidup seseorang itu tergantung dengan apa yang dikonsumsinya. Seharusnya masyarakat lebih peduli dengan kesehatan yang berasal dari makanan ini.
Karna sudah banyak sekali kasus dimana penyakit yang diderita oleh seseorang itu berasal dari apa yang dikonsumsinya, misalnya karna makanannya kurang sehat, sering jajan sembarangan yang tidak diketahui asal muasal makanan tersebut, kurang mengkomsumsi makanan yang bergizi dan sebagainya.



Nah, sekarang mari kita bahas sedikit tentang olahraga yang sebenarnya sangat mempengaruhi kesehatan tubuh.
Sering kali orang memiliki banyak alasan untuk tidak berolahraga, sibuk kerja, banyak tugas, ada segudang kegiatan, dan lainnya.
Sebenarnya, jika kita memang niat untuk menjaga kesehatan kita melalui olahraga pasti kita bisa melakukan olahraga. Olahraga 30 menit dalam sehari, cukup untuk membantu kita bugar seharian, 15 menit ketika pagi dan 15 menit lagi ketika sore atau malam hari.
Dengan melakukan hal itu saja secara rutin, kita sudah pasti bisa mengontrol tubuh kita agar tidak mudah sakit.
Push up, sit up, jogging, stretching (peregangan), yoga, angkat beban ringan, latihan, adalah macam-macam olahraga sederhana yang bisa kita lakukan secara rutin karena keefisiensiannya yang tinggi. Tidak makan tempat, tidak perlu banyak alat, tidak perlu pergi ke tempat-tempat olahraga, hanya diperlukan ketekunan dan niat.





Lanjut bahas tentang kesehatan dari segi tidur.
Ya, tidur memang sangat diperlukan oleh tubuh, karena tubuh pasti akan merasakan yang namanya lelah. Jadi, dengan tidur dapat mengurangi kapasitas lelah yang ada pada diri kita. Dan tidur pun membantu untuk mengurangi resiko sakit, karena lelah yang hinggap di tubuh kita bisa hilang.
Lelah yang berlebihan mampu meninggikan resiko tubuh kita untuk terserang berbagai macam penyakit, jadi tidurlah sesuai dengan porsi tubuh kita masing-masing.



Itulah artikel yang bisa Saya buat, semoga bahasannya dapat memberikan manfaat kepada yang membaca. Ingatlah :



Kesehatan adalah salah satu rejeki yang paling mewah dan nikmat yang bisa manusia dapatkan.


Jumat, 10 Oktober 2014

Tugas 1 Softskill Bahasa Indonesia

1.       Jelaskan peran dan fungsi bahasa
Peran Bahasa adalah untuk berkomunikasi satu sama lain, yang dapat berbentuk tulisan maupun verbal. Dengan adanya bahasa pun mahluk hidup dapat berhubungan dengan mudah, karena bahasa itu terbentuk dari pemahaman yang dapat diterima oleh banyak kalangan.
Bahasa juga merupakan salah satu alat untuk menunjukkan identitas diri, dimana dengan adanya bahasa kita dapat mengethaui identitas kita satu sama lain. Karena, kita hanya perlu mengekspresikan diri kita dengan kata-kata yang dapat dipahami oleh umum, maka kita secara tidak langsung sudah memberikan identitas diri kita dengan bahasa.

Fungsi Bahasa adalah sebagai berikut :
·         Komunikasi
Komunikasi adalah hal yang paling terpenting dalam aspek kehidupan mahluk hidup dimana pun mahluk hidup itu berada. Karena dengan adanya komunikasi, mahluk hidup dengan mudah akan mendapatkan informasi.

·         Fungsi Integrasi dan Adaptasi
Fungsi bahasa yang satu ini adalah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang kita tempati ataupun yang baru kita jumpai. Jadi, dengan kemampuan kita menguasai bahasa kita pun mampu beradaptasi dengan mudah.

·         Fungsi Kontrol Sosial
Fungsi bahasa sebagai kontrol sosial adalah untuk memberi batasan, kepada siapa kita berkomunikasi, bagaimana cara kita berkomunikasi dengan karakter yang berbeda-beda, dan masih banyak lagi contohnya yang menunjukkan bahwa kita tidak bisa sembarangan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi.

·         Fungsi Ekspresi
Seperti yang sudah dibahas pada awal paragraf tadi, intinya dengan mengusai bahasa kita mampu untuk mengekspresikan diri kita dengan cara kita sendiri, dan yang dapat dipahami oleh umum.


2.      Fenomena bahasa Indonesia di kalangan remaja / pendidikan
Bahasa Indonesia di kalangan remaja / dunia pendidikan sepertinya sudah hampir tertelan oleh jaman. Dikarenakan era globlalisasi yang semakin menguat, menjadikan kalangan remaja ingin mengikuti “tren” yang sedang “in” di dunia. Serta rasa tidak ingin “ketinggalan jaman” yang ternanam di dalam jiwa muda inilah yang membuat bahasa Indonesia menjadi terkikis sedikit demi sedikit.

      Namun, walaupun demikian, tidak sedikit juga para khalayak muda yang tetap mempertahankan bahasa Indonesia. Misalnya dengan memberikan edukasi secara cuma-cuma kepada masyarakat yang belum mengetahuinya, atau dengan mengadakan festival budaya Indonesia yang dapat memberikan efek kepada pertahanan bahasa Indonesianya itu sendiri.

Sabtu, 27 September 2014

Tugas 2 Softskill Bahasa Indonesia

Keunikan dan kelemahan bahasa Indonesia dibanding dengan bahasa lain 
Sebenarnya Saya hanya akan memberikan beberapa poin yang Saya dapat dari pemikiran sendiri maupun setelah bertanya dengan banyak sumber, pembaca sekalian lah yang mungkin dapat menyimpulkan yang mana keunikan ataupunya kelemahannya. Karena jujur saja Saya merasa agak bingung, jadi mari kita lihat poin-poinnya.
– Bahasa Indonesia itu adalah bahasa yang paling sempurna dalam hal “pengejaannya”. Huruf “A” ya dibaca “A” bukan “AE” seperti halnya bahasa Inggris. Huruf “E” ya dibaca “E” bukannya malah menjadi “I”. Dan lain sebagainya.
– Bahasa Indonesia itu bahasa yang paling lengkap huruf alphabetnya. Karena dalama beberapa bahasa, seperti contohnya bahasa Arab, tidak terdapat huruf “O” dan huruf “E”. Misalnya saja untuk penulisan nama Saya, Amelia, dalam bahasa Indonesia tentu saja nama Saya dapat ditulis secara lengkap dan benar tanpa mengubah keutuhan nama Saya. Namun dalam bahasa Arab nama Saya menjadi “Amalia” "اَÙ…َÙ„ِÙŠَ", mengubah keutuhan nama Saya.
– Bahasa Indonesia itu adalah bahasa dimana tidak semua kosa katanya dapat diterjemahkan ke bahasa lain. Misalnya saja, kata “lebay”, lebay artinya berlebihan. Bisa tidak diterjemahkan ke bahasa lain? Bahasa Inggris misalnya, bahasa yang paling tidak asing karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Apa bahasa Inggrisnya “lebay”? “Too much”? Sulit bukan untuk menerjemahkannya? Ya, memang sulit. Tidak semua kosa kata dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan. Apalagi bahasa daerah yang kadang “dia yang bicara, dia yang tidak dapat menjelaskan artinya”. “Ngejogrok” adalah salah satu contohnya, mungkin di daerah yang berbahasa Sunda mengartikannya sebagai “jatuh”, atau bahasa tidak formalnya adalah “ngejomplang”. Jadi pada dasarnya memang tidak mudah menerjemahkan semua kosa kata bahasa Indonesia ke bahasa lain.
– Ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu adalah bahasa yang paling sulit untuk dipelajari. Mari perhatikan.
·         Imbuhan dalam bahasa Indonesia itu terlalu banyak dan rumit bagi mayoritas masyarakat yang tidak paham betul tentang imbuhan.
·         Bahasa Indonesia terlalu banyak memiliki pendapat, tidak adanya “grammar” membuat orang berspekulasi dengan jalan pikirannya masing-masing sehingga tidak adanya kesatuan bahasa yang tetap.
·         Bahasa Indonesia adalah bahasa yang banyak “peranakannya”. Dikarenakan oleh negara Indonesia yang memang memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi. Jadinya terciptalah berbagai macam dialek dari setiap daerah. Misalnya yang dari daerah Jawa, dialek Jawa sangatlah “medog”, di daerah yang berbahasa Sunda pun dialeknya menjadi halus cara bicaranya, dari daerah yang berbahasa Batak pun dialeknya menjadi tegas dan lantang.

Itulah beberapa poin yang dapat Saya sampaikan, silahkan pembaca sendiri yang menanggapi dari setiap poin tersebut yang termasuk ke dalam keunikan ataupun kelemahan dari bahasa Indonesia.

Selasa, 14 Januari 2014

Project and Risk Management - Chapter 5 Project Scope Management

Chapter 5
Project Scope Management


Project Scope Management includes the processes required to ensure that the
project includes all the work required, and only the work required, to complete
the project successfully (1). It is primarily concerned with defining and control-
ling what is or is not included in the project.  Figure 5-1  provides an overview
of the major project scope management processes:
5.1
Initiation
—authorizing the project or phase.
5.2
Scope Planning
—developing a written scope statement as the basis for future
project decisions.
5.3
Scope Definition
—subdividing the major project deliverables into smaller, more
manageable components.
5.4
Scope Verification
—formalizing acceptance of the project scope.
5.5
Scope Change Control
—controlling changes to project scope.

These processes interact with each other and with the processes in the other
knowledge areas as well. Each process may involve effort from one or more indi-
viduals or groups of individuals, based on the needs of the project. Each process
generally occurs at least once in every project phase.
Although the processes are presented here as discrete components with well-
defined interfaces, in practice they may overlap and interact in ways not detailed
here. Process interactions are discussed in detail in Chapter 3.
In the project context, the term  scope  may refer to:

Product scope—the features and functions that characterize a product or service.

Project scope—the work that must be done to deliver a product with the spec-
ified features and functions.

The processes, tools, and techniques used to manage  project  scope are the
focus of this chapter. The processes, tools, and techniques used to manage
product  scope vary by application area and are usually defined as part of the
project life cycle (the project life cycle is discussed in Section 2.1).
A project generally results in a single product, but that product may include
subsidiary components, each with its own separate but interdependent product
scopes. For example, a new telephone system would generally include four sub-
sidiary components—hardware, software, training, and implementation.
Completion of the project scope is measured against the project plan, but com-
pletion of the product scope is measured against the product requirements. Both
types of scope management must be well integrated to ensure that the work of
the project will result in delivery of the specified product.

5.1 INITIATION
Initiation is the process of formally authorizing a new project or that an existing
project should continue into its next phase (see Section 2.1 for a more detailed
discussion of project phases). This formal initiation links the project to the
ongoing work of the performing organization. In some organizations, a project is
not formally initiated until after completion of a needs assessment, a feasibility
study, a preliminary plan, or some other equivalent form of analysis that was itself
separately initiated. Some types of projects, especially internal service projects and
new product development projects, are initiated informally, and some limited
amount of work is done to secure the approvals needed for formal initiation. Proj-
ects are typically authorized as a result of one or more of the following:

A market demand (e.g., a car company authorizes a project to build more fuel-
efficient cars in response to gasoline shortages).

A business need (e.g., a training company authorizes a project to create a new
course to increase its revenues).

A customer request (e.g., an electric utility authorizes a project to build a new
substation to serve a new industrial park).

A technological advance (e.g., an electronics firm authorizes a new project to
develop a video game player after advances in computer memory).

A legal requirement (e.g., a paint manufacturer authorizes a project to estab-
lish guidelines for the handling of toxic materials).

A social need (e.g., a nongovernmental organization in a developing country
authorizes a project to provide potable water systems, latrines, and sanitation
education to low-income communities suffering from high rates of cholera).

These stimuli may also be called problems, opportunities, or business require-
ments. The central theme of all these terms is that management generally must
make a decision about how to respond.

5.1.1 Inputs to Initiation

1. Product description
The product description documents the characteristics of the
product or service that the project was undertaken to create. The product
description will generally have less detail in early phases and more detail in later
ones as the product characteristics are progressively elaborated.
The product description should also document the relationship between the
product or service being created and the business need or other stimulus that
gave rise to the project (see the list in Section 5.1). While the form and substance
of the product description will vary, it should always be detailed enough to sup-
port later project planning.
Many projects involve one organization (the seller) doing work under contract
to another (the buyer). In such circumstances, the initial product description is
usually provided by the buyer.

2. Strategic plan
All projects should be supportive of the performing organization’s
strategic goals—the strategic plan of the performing organization should be con-
sidered as a factor in project selection decisions.

3. Project selection criteria
Project selection criteria are typically defined in terms
of the merits of the product of the project and can cover the full range of possible
management concerns (financial return, market share, public perceptions, etc.).
4. Historical information
Historical information about both the results of previous
project selection decisions and previous project performance should be considered
to the extent that it is available. When initiation involves approval for the next
phase of a project, information about the results of previous phases is often critical.

5.1.2  Tools and Techniques for Initiation

1. Project selection methods
Project selection methods involve measuring value or
attractiveness to the project owner. Project selection methods include considering
the decision criterion (multiple criteria, if used, should be combined into a single
value function) and a means to calculate value under uncertainty. These are
known as the  decision model  and  calculation method . Project selection also applies
to choosing the alternative ways of doing the project. Optimization tools can be
used to search for the optimal combination of decision variables. Project selec-
tion methods generally fall into one of two broad categories (2):

Benefit measurement methods—comparative approaches, scoring models,
benefit contribution, or economic models.

Constrained optimization methods—mathematical models using linear, non-
linear, dynamic, integer, and multi-objective programming algorithms.
These methods are often referred to as  decision models . Decision models
include generalized techniques (Decision Trees, Forced Choice, and others), as
well as specialized ones (Analytic Hierarchy Process, Logical Framework
Analysis, and others). Applying complex project selection criteria in a sophisti-
cated model is often treated as a separate project phase.

2. Expert judgment
Expert judgment will often be required to assess the inputs to
this process. Such expertise may be provided by any group or individual with spe-
cialized knowledge or training, and is available from many sources, including:

Other units within the performing organization.

Consultants.

Stakeholders, including customers.

Professional and technical associations.

Industry groups.

5.1.3  Outputs from Initiation

1. Project charter
A project charter is a document that formally authorizes a
project. It should include, either directly or by reference to other documents:

The business need that the project was undertaken to address.

The product description (described in Section 5.1.1.1).
The project charter should be issued by a manager external to the project, and
at a level appropriate to the needs of the project. It provides the project manager
with the authority to apply organizational resources to project activities. 
When a project is performed under contract, the signed contract will generally
serve as the project charter for the seller.

2. Project manager identified/assigned
In general, the project manager should be
identified and assigned as early in the project as is feasible. The project manager
should always be assigned prior to the start of project plan execution (described
in Section 4.2) and preferably before much project planning has been done (the
project planning processes are described in Section 3.3.2).

3. Constraints
Constraints are factors that will limit the project management team’s
options. For example, a predefined budget is a constraint that is highly likely to
limit the team’s options regarding scope, staffing, and schedule.
When a project is performed under contract, contractual provisions will gen-
erally be constraints. Another example is a requirement that the product of the
project be socially, economically, and environmentally sustainable, which will also
have an effect on the project’s scope, staffing, and schedule.

4. Assumptions

5.2 SCOPE PLANNING
Scope planning is the process of progressively elaborating and documenting the
project work (project scope) that produces the product of the project. Project
scope planning starts with the initial inputs of product description, the project
charter, and the initial definition of constraints and assumptions. Note that the
product description incorporates product requirements that reflect agreed-upon
customer needs and the product design that meets the product requirements. The
outputs of scope planning are the scope statement and scope management plan,
with the supporting detail. The scope statement forms the basis for an agreement
between the project and the project customer by identifying both the project
objectives and the project deliverables. Project teams develop multiple scope
statements that are appropriate for the level of project work decomposition.
5.2.1  Inputs to Scope Planning

1. Product description
The product description is discussed in Section 5.1.1.1.

2. Project charter
The project charter is described in Section 5.1.3.1.

3. Constraints
Constraints are described in Section 5.1.3.3.

4. Assumptions
Assumptions are described in Section 4.1.1.5.

5.2.2  Tools and Techniques for Scope Planning

1. Product analysis
Product analysis involves developing a better understanding of
the product of the project. It includes techniques such as product breakdown
analysis systems engineering, value engineering, value analysis, function analysis,
and quality function deployment.

2. Benefit/cost analysis
Benefit/cost analysis involves estimating tangible and
intangible costs (outlays) and benefits (returns) of various project and product
alternatives, and then using financial measures, such as return on investment or
payback period, to assess the relative desirability of the identified alternatives.

3. Alternatives identification
This is a general term for any technique used to gen-
erate different approaches to the project. There is a variety of general manage-
ment techniques often used here, the most common of which are brainstorming
and lateral thinking.

4. Expert judgment
Expert judgment is described in Section 5.1.2.2.

5.2.3  Outputs from Scope Planning

1. Scope statement
The scope statement provides a documented basis for making
future project decisions and for confirming or developing common understanding
of project scope among the stakeholders. As the project progresses, the scope
statement may need to be revised or refined to reflect approved changes to the
scope of the project. The scope statement should include, either directly or by ref-
erence to other documents:

Project justification—the business need that the project was undertaken to
address. The project justification provides the basis for evaluating future
tradeoffs.

Project’s product—a brief summary of the product description (the product
description is discussed in Section 5.1.1.1).

Project deliverables—a list of the summary-level subproducts whose full and sat-
isfactory delivery marks completion of the project. For example, the major deliv-
erables for a software development project might include the working computer
code, a user manual, and an interactive tutorial. When known, exclusions
should be identified, but anything not explicitly included is implicitly excluded.

Project objectives—the quantifiable criteria that must be met for the project
to be considered successful. Project objectives must include at least cost,
schedule, and quality measures. Project objectives should have an attribute
(e.g., cost), a metric (e.g., United States [U.S.] dollars), and an absolute or
relative value (e.g., less than 1.5 million). Unquantified objectives (e.g., “cus-
tomer satisfaction”) entail high risk to successful accomplishment.

2. Supporting detail
Supporting detail for the scope statement should be docu-
mented and organized as needed to facilitate its use by other project management
processes. Supporting detail should always include documentation of all identi-
fied assumptions and constraints. The amount of additional detail may vary by
application area.

3. Scope management plan
This document describes how project scope will be
managed and how scope changes will be integrated into the project. It should
also include an assessment of the expected stability of the project scope (i.e., how
likely is it to change, how frequently, and by how much). The scope management
plan should also include a clear description of how scope changes will be iden-
tified and classified. (This is particularly difficult—and therefore absolutely
essential—when the product characteristics are still being elaborated.)
A scope management plan may be formal or informal, highly detailed or
broadly framed, based on the needs of the project. It is a subsidiary component
of the project plan (described in Section 4.1.3.1).

5.3 SCOPE DEFINITION
Scope definition involves subdividing the major project deliverables (as identi-
fied in the scope statement as defined in Section 5.2.3.1) into smaller, more man-
ageable components to:

Improve the accuracy of cost, duration, and resource estimates.

Define a baseline for performance measurement and control.

Facilitate clear responsibility assignments.

Proper scope definition is critical to project success. “When there is poor scope
definition, final project costs can be expected to be higher because of the
inevitable changes which disrupt project rhythm, cause rework, increase project
time, and lower the productivity and morale of the workforce” (3).

5.3.1  Inputs to Scope Definition

1. Scope statement
The scope statement is described in Section 5.2.3.1.

2. Constraints
Constraints are described in Section 5.1.3.3. When a project is done
under contract, the constraints defined by contractual provisions are often impor-
tant considerations during scope definition.

3. Assumptions
Assumptions are described in Section 4.1.1.5.

4. Other planning outputs
The outputs of the processes in other knowledge areas
should be reviewed for possible impact on project scope definition.

5. Historical information
Historical information about previous projects should be
considered during scope definition. Information about errors and omissions on
previous projects should be especially useful.

5.3.2  Tools and Techniques for Scope Definition

1. Work breakdown structure templates
A WBS (described in Section 5.3.3.1) from a previous project can often be used as a template for a new project. Although each project is unique, WBSs can often be “reused” since most projects will
resemble another project to some extent. For example, most projects within a
given organization will have the same or similar project life cycles, and will thus
have the same or similar deliverables required from each phase.
Many application areas or performing organizations have standard or semi-
standard WBSs that can be used as templates. For example, the U.S. Department
of Defense has recommended standards WBSs for Defense Material Items (MIL-
HDBK-881).

2. Decomposition
Decomposition involves subdividing the major project deliver-
ables or subdeliverables into smaller, more manageable components until the
deliverables are defined in sufficient detail to support development of project
activities (planning, executing, controlling, and closing). Decomposition involves
the following major steps:
(1) Identify the major deliverables of the project, including project manage-
ment. The major deliverables should always be defined in terms of how the
project will actually be organized. For example:

The phases of the project life cycle may be used as the first level of decompo-
sition with the project deliverables repeated at the second level, as illustrated
in  Figure 5-3.

The organizing principle within each branch of the WBS may vary, as illus-
trated in  Figure 5-4.

(2) Decide if adequate cost and duration estimates can be developed at this
level of detail for each deliverable. The meaning of  adequate  may change over the
course of the project—decomposition of a deliverable that will be produced far
in the future may not be possible. For each deliverable, proceed to Step 4 if there
is adequate detail, to Step 3 if there is not—this means that different deliverables
may have differing levels of decomposition.

(3) Identify constituent components of the deliverable. Constituent components
should be described in terms of tangible, verifiable results to facilitate performance
measurement. As with the major components, the constituent components should
be defined in terms of how the work of the project will actually be organized and
the work of the project accomplished. Tangible, verifiable results can include ser-
vices as well as products (e.g.,  status reporting  could be described as  weekly status
reports ; for a manufactured item, constituent components might include several
individual components plus  final assembly ). Repeat Step 2 on each constituent
component.

(4) Verify the correctness of the decomposition:

Are the lower-level items both necessary and sufficient for completion of the
decomposed item? If not, the constituent components must be modified
(added to, deleted from, or redefined).

Is each item clearly and completely defined? If not, the descriptions must be
revised or expanded.

Can each item be appropriately scheduled? Budgeted? Assigned to a specific
organizational unit (e.g., department, team, or person) who will accept
responsibility for satisfactory completion of the item? If not, revisions are
needed to provide adequate management control.

5.3.3  Outputs from Scope Definition

1. Work breakdown structure
A WBS is a deliverable-oriented grouping of project
components that organizes and defines the total scope of the project; work not 
in the WBS is outside the scope of the project. As with the scope statement, the
WBS is often used to develop or confirm a common understanding of project
scope. Each descending level represents an increasingly detailed description of
the project deliverables. Section 5.3.2.2 describes the most common approach for
developing a WBS. A WBS is normally presented in chart form, as illustrated in
Figures 5-2 ,  5-3 , and  5-4 ; however, the WBS should not be confused with the
method of presentation—drawing an unstructured activity list in chart form does
not make it a WBS.
Each item in the WBS is generally assigned a unique identifier; these identifiers
can provide a structure for a hierarchical summation of costs and resources. The
items at the lowest level of the WBS may be referred to as  work packages , espe-
cially in organizations that follow earned value management practices. These
work packages may in turn be further decomposed in a subproject work break-
down structure. Generally, this type of approach is used when the project manager
is assigning a scope of work to another organization, and this other organization
must plan and manage the scope of work at a more detailed level than the project
manager in the main project. These work packages may be further decomposed in
the project plan and schedule, as described in Sections 5.3.2.2 and 6.1.2.1.
Work component descriptions are often collected in a  WBS dictionary . A WBS
dictionary will typically include work package descriptions, as well as other plan-
ning information such as schedule dates, cost budgets, and staff assignments.
The WBS should not be confused with other kinds of “breakdown” structures
used to present project information. Other structures commonly used in some
application areas include:

Contractual WBS (CWBS), which is used to define the level of reporting that
the seller will provide the buyer. The CWBS generally includes less detail than
the WBS used by the seller to manage the seller’s work.

Organizational breakdown structure (OBS), which is used to show which
work components have been assigned to which organizational units.

Resource breakdown structure (RBS), which is a variation of the OBS and is
typically used when work components are assigned to individuals.

Bill of materials (BOM), which presents a hierarchical view of the physical
assemblies, subassemblies, and components needed to fabricate a manufac-
tured product.

Project breakdown structure (PBS), which is fundamentally the same as a
properly done WBS. The term  PBS  is widely used in application areas where
the term  WBS  is incorrectly used to refer to a BOM.

2. Scope statement updates
Include any modification of the contents of the scope
statement (described in Section 5.2.3.1). Appropriate stakeholders must be noti-
fied as needed.

5.4 SCOPE VERIFICATION

Scope verification is the process of obtaining formal acceptance of the project
scope by the stakeholders (sponsor, client, customer, etc.). It requires reviewing
deliverables and work results to ensure that all were completed correctly and sat-
isfactorily. If the project is terminated early, the scope verification process should
establish and document the level and extent of completion. Scope verification dif-
fers from quality control (described in Section 8.3) in that it is primarily con-
cerned with  acceptance  of the work results while quality control is primarily
concerned with the  correctness  of the work results. These processes are generally
performed in parallel to ensure both correctness and acceptance.

5.4.1  Inputs to Scope Verification

1. Work results
Work results—which deliverables have been fully or partially com-
pleted—are an output of project plan execution (discussed in Section 4.2).

2. Product documentation
Documents produced to describe the project’s products
must be available for review. The terms used to describe this documentation
(plans, specifications, technical documentation, drawings, etc.) vary by applica-
tion area.

3. Work breakdown structure
The WBS aids in definition of the scope, and should
be used to verify the work of the project (see Section 5.3.3.1).

4. Scope statement
The scope statement defines the scope in some detail and
should be verified (see Section 5.2.3.1).

5. Project plan
The project plan is described in Section 4.1.3.1.

5.4.2  Tools and Techniques for Scope Verification

1. Inspection
Inspection includes activities such as measuring, examining, and
testing undertaken to determine whether results conform to requirements.
Inspections are variously called reviews, product reviews, audits, and walk-
throughs; in some application areas, these different terms have narrow and spe-
cific meanings.

5.4.3  Outputs from Scope Verification

1. Formal acceptance
Documentation that the client or sponsor has accepted the
product of the project phase or major deliverable(s) must be prepared and dis-
tributed. Such acceptance may be conditional, especially at the end of a phase.

5.5  SCOPE CHANGE CONTROL
Scope change control is concerned with a) influencing the factors that create
scope changes to ensure that changes are agreed upon, b) determining that a
scope change has occurred, and c) managing the actual changes when and if they
occur. Scope change control must be thoroughly integrated with the other control processes.

5.5.1  Inputs to Scope Change Control

1. Work breakdown structure
The WBS is described in Section 5.3.3.1. It defines the
project’s scope baseline.

2. Performance  report
Performance reports, discussed in Section 10.3.3.1, provide
information on scope performance, such as which interim deliverables have been
completed and which have not. Performance reports may also alert the project
team to issues that may cause problems in the future.

3. Change requests
Change requests may occur in many forms—oral or written,
direct or indirect, externally or internally initiated, and legally mandated or
optional. Changes may require expanding the scope or may allow shrinking it.
Most change requests are the result of:

An external event (e.g., a change in a government regulation).

An error or omission in defining the scope of the product (e.g., failure to
include a required feature in the design of a telecommunications system).

An error or omission in defining the scope of the project (e.g., using a BOM
instead of a WBS).

A value-adding change (e.g., an environmental remediation project is able to
reduce costs by taking advantage of technology that was not available when
the scope was originally defined).

Implementing a contingency plan or workaround plan to respond to a risk, as
described in Section 11.6.3.3.

4. Scope management plan

5.5.2  Tools and Techniques for Scope Change Control

1. Scope change control
A scope change control defines the procedures by which
the project scope may be changed. It includes the paperwork, tracking systems,
and approval levels necessary for authorizing changes. The scope change control
should be integrated with the integrated change control described in Section 4.3
and, in particular, with any system or systems in place to control product scope.
When the project is done under contract, the scope change control must also
comply with all relevant contractual provisions.

2. Performance measurement
Performance measurement techniques, described in
Section 10.3.2, help to assess the magnitude of any variations that do occur. Deter-
mining what is causing the variance relative to the baseline and deciding if the
variance requires corrective action are important parts of scope change control.

3. Additional planning
Few projects run exactly according to plan. Prospective
scope changes may require modifications to the WBS or analysis of alternative
approaches (see Sections 5.3.3.1 and 5.2.2.3, respectively).

5.5.3  Outputs from Scope Change Control

1. Scope changes
A scope change is any modification to the agreed-upon project
scope as defined by the approved WBS. Scope changes often require adjustments
to cost, time, quality, or other project objectives.
Project scope changes are fed back through the planning process, technical
and planning documents are updated as needed, and stakeholders are notified as
appropriate.
2. Corrective action
Corrective action is anything done to bring expected future
project performance in line with the project plan.

3. Lessons learned
The causes of variances, the reasoning behind the corrective
action chosen, and other types of lessons learned from scope change control
should be documented, so that this information becomes part of the historical
database for both this project and other projects of the performing organization.

4. Adjusted baseline
Depending upon the nature of the change, the corresponding
baseline document may be revised and reissued to reflect the approved change
and form the new baseline for future changes.



Amelia Maryam N S - 20112703
Novita Ristyana - 22112423
2KB05 - Sistem Komputer
Universitas Gunadarma
2013-2014